“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
- Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?
- Dari kutipan di atas, kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang saya pelajari saat ini adalah bahwa pendidikan yang diberikan kepada anak-anak bukan hanya pengetahuannya saja, karena hal penting lainnya yang harus diajarkan adalah sikap ataupun karakter (kompetensi sosial dan emosional) anak karena sebagai makhluk sosial maka setiap manusia pasti berhubungan dengan manusia yang lain termasuk anak-anak didik.
- Pendidikan merupakan proses humanisasi (merdeka batin) sedangkan pengajaran adalah proses melatih kecakapan hidup (merdeka lahir), memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
- Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?
- Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita. Hal ini dapat terlihat ketika kita menjunjung tinggi nilai atau prinsip kejujuran, maka setiap keputusan yang diambil akan selalu mengedepankan kejujuran tersebut. Jika dilihat dari prinsip pengambilan keputusan maka hal ini termasuk dalam prinsip berbasis peraturan. Tidak ada yang salah dalam hal ini, karena kejujuran termasuk dalam nilai atau prinsip yang berlaku secara universal. Seseorang yang menjunjung tinggi kejujuran akan merasa tidak nyaman ketika melihat ketidakjujuran di sekitarnya dan berdampak pada keputusan yang dibuat.
Demikian halnya saat seseorang menjunjung tinggi nilai-nilai atau prinsip-prinsip lainnya akan mempengaruhi pada keputusan yang diambilnya - Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?
- Sebagai seorang pemimpin pembelajaran untuk dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan maka saya akan melakukannya melalui proses coaching. Pengambilan keputusan yang dilakukan harus berpihak pada murid dan menjunjung nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diyakini oleh murid, selaras dengan budaya positif yang sudah disepakati bersama.
- Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
- Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil.
Filosofi Pratap Triloka yakni “Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan menjadi contoh atau panutan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah memberi atau membangun semangat, niat, maupun kemauan), Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan semangat atau dorongan)”. Hal ini dikemukakan oleh Bapak Pendidikan kita, Bapak Ki Hajar Dewantara. Semboyan tersebut memiliki makna bahwa sebagai seorang pemimpin pembelajaran, maka sebagai seorang guru harus bisa memberikan contoh serta panutan kepada orang lain di sekitarnya saat ia berada di depan. Guru juga harus bisa membangkitkan atau membangun niat, kemauan, dan semangat dalam diri orang lain di sekitarnya. Guru juga harus bisa memberikan semangat maupun dorongan kepada para muridnya. - Dalam hal pengambilan keputusan, maka hendaknya keputusan yang diambil dapat menjadi contoh atau dapat dijadikan panutan baik oleh murid itu sendiri maupun rekan sejawat. Keputusan yang diambil juga dapat memberikan semangat atau kemauan yang positif dalam diri orang lain. Guru sebaiknya menggali hal-hal positif yang menjadi kekuatan sehingga hal tersebut menjadi penyemangat bagi murid maupun bagi rekan sejawat untuk berbuat lebih baik. Mengingat karena dalam melakukan hal-hal positif dibutuhkan komitmen yang kuat maka diperlukan semangat atau dorongan. Hal ini dapat diperoleh dari guru sebagai pemimpin pembelajaran. Tidak ada kata lelah dalam memberikan semangat kepada orang lain karena keberhasilan orang lain akan menjadi keberhasilan kita juga.
- Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
- Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena nilai-nilai ataupun prinsip-prinsip tersebut terkadang kita pegang teguh dan menjadi prinsip dalam hidup kita. Tatkala orang lain dihadapkan pada situasi yang bertentangan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita pegang itu, maka kita akan serta merta berontak dan bahkan berusaha agar orang lain dapat melakukan dan berbuat seperti apa yang kita lakukan dan punya prinsip seperti yang kita yakini. Hal ini tidaklah salah, selagi nilai-nilai dan prinsip-prinsip tersebut merupakan nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebajikan yang berlaku secara universal. Sering sekali nilai-nilai dan prinsip-prinsip ini menjadi dasar atau panduan dalam pengambilan suatu keputusan. Kita akan cenderung berpikir berbasis nilai-nilai atau prinsip-prinsip tersebut.
- Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
- Untuk dapat melakukan pengambilan keputusan, maka diperlukan bimbingan atau pendampingan melalui kegiatan coaching. Pengujian keputusan dari sebuah kasus diperlukan guna memastikan keputusan yang diambil adalah sebuah keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dibutuhkan orang lain yang dapat membantu dalam pengujian keputusan tersebut. Seseorang yang dapat mendorong kita dalam menentukan alternatif pemecahan masalah hingga kita dapat menentukan sendiri keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan baik buruknya. Melalui kegiatan coaching, maka hal ini dapat dilakukan. Seorang coach akan memberikan pertanyaan yang dapat menggali hal-hal yang belum diketahui sebelumnya. Salah satu model coaching yang dapat digunakan adalah model TIRTA (Tujuan Utama, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggungjawab). Melalui model ini, seorang coach akan membuat alur pertanyaan menjadi lebih efektif dan bermakna. Dalam tahapan identifikasi akan digali berbagai fakta yang ada terkait permasalahan yang dihadapi. Dengan pertanyaan pemantik yang diutarakan oleh coach maka permasalahan ataupun kasus yang dibahas dapat dikategorikan apakah melewati tahap pengujian pengambilan keputusan. Keterampilan seorang coach dalam menyampaikan pertanyaan akan sangat menentukan apakah pengambilan keputusan oleh coachee telah efektif. Atau masih ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri coachee atas pengambilan keputusan tersebut. Kegiatan coaching ini berhasil tatkala coachee dapat menentukan rencana aksi dan komitmen terkait keputusan yang diambil atas permasalahan yang dihadapi. Dibutuhkan sikap reflektif, kritis, dan
kreatif dalam pengambilan keputusan. Keputusan yang diambil haruslah sebuah keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak melanggar nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal.
- Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?
- Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Untuk mengambil
keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan
diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan
berhubungan sosial (relationship skills). Proses pengambilan keputusan
seharusnya juga dilakukan dengan kesadaran penuh (mindful) dengan berbagai
pilihan dan konsekuensi yang ada.
Apabila kompetensi sosial dan emosional guru belum mumpuni maka keputusan yang diambil bisa saja merupakan keputusan yang berdampak negatif dan melanggar nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal. Akan ada konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Dengan kompetensi sosial emosional yang baik maka konsekuensi yang muncul sebagai akibat dari pengambilan sebuah keputusan dapat tertangani dengan baik. - Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
- Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Kasus yang berkaitan dengan masalah moral atau etika, maka dalam penanganannya pun harus dilihat dari segi moral atau etika yang berlaku secara universal. Sebagai seorang pendidik nilai-nilai moral dan etika ini haruslah dijunjung tinggi. Secara tidak sadar nilai-nilai ini akan mempengaruhi seorang pendidik dalam menangani permasalahan terkait moral dan etika. Ketika dihadapkan pada masalah moral dan etika maka seorang pendidik akan memandang masalah tersebut dari segi nilai-nilai moral yang berlaku secara umum. Adanya nilai-nilai moral yang diyakini oleh seorang pendidik akan menjadi panduan baginya dalam mengambil keputusan. Akan terdapat kecenderungan pendidik dalam menangani masalah tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya. Hal ini tidaklah salah mengingat nilai-nilai yang diyakini itu bersifat umum atau universal.
- Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
- Pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Setiap keputusan yang diambil akan memiliki dampak, baik yang positif maupun yang negatif. Untuk itu diharapkan adanya pengujian terhadap setiap keputusan yang diambil guna meminimalisir hal-hal negatif yang muncul sebagai akibat dari keputusan yang diambil. Mengingat keputusan yang diambil melibatkan orang lain maka sebaiknya keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman sehingga tidak menimbulkan konflik pada pihak-pihak lain dan tidak menimbulkan konflik baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang. Sebagai pemimpin pembelajaran maka sebaiknya seorang pendidik menghasilkan keputusan yang berpihak pada murid, yang mengutamakan kebahagiaan dan keselamatan murid. Untuk itu perlu dilakukan analisa terhadap setiap kasus yang ada, untuk memastikan apakah kasus tersebut termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan tahapan yang terdiri dari penentuan paradigma, prinsip dan 9 langkah pengujian dalam pengambilan keputusan. Dengan tahapan ini diharapkan keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan dan dan terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman
- Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
- Kesulitan-kesulitan di lingkungan saya yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika adalah adanya perbedaan pendapat yang terjadi diantara rekan sejawat sebagai akibat dari perbedaan cara pandang terhadap permasalahan, kurangnya keberpihakan pendidik terhadap murid, dan kurangnya koordinasi di antara sesama pendidik dalam pengambilan keputusan yang berpihak kepada murid.
- Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
- Pengambilan keputusan yang diambil akan berpengaruh dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid. Apabila keputusan yang diambil merupakan keputusan yang berpihak kepada murid maka bisa dipastikan bahwa pengajaran yang dilakukan adalah pengajaran yang memerdekakan murid. Sebaliknya, apabila keputusan yang diambil bukanlah keputusan yang berpihak kepada murid maka pengajaran yang memerdekakan murid tidak akan tercapai. Seyogyanya keputusan yang diambil adalah keputusan yang menuntun pada kebahagiaan dan keselamatan murid-murid sejalan dengan filosofi pendidikan yang disampaikan oleh bapak Ki Hajar Dewantara.
- Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
- Seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Hal ini dapat terlihat pada berbagai penanganan studi kasus seperti yang dicontohkan di dalam modul. Kadangkala kasus yang muncul diperhadapkan pada dilema etika. Di satu sisi ketika seorang guru harus memilih sebuah situasi dimana aturan yang harus ditegakkan ataukah masa depan murid yang harus dipertaruhkan. Dalam kasus seperti ini jelas terlihat bahwa pengambilan keputusan sangat berpengaruh pada masa depan murid. Apabila keputusan yang diambil berpihak kepada murid maka dipastikan hal tersebut akan membawa dampak positif pada masa depan murid. Untuk itu diperlukan keterampilan dalam pengambilan sebuah keputusan sehingga penanganan kasus selalu mengedepankan kepentingan murid, yang pada akhirnya menghasilkan kebahagiaan dan keselamatan murid yang setinggi-tingginya.
- Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
- Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah bahwa :
- Tujuan pendidikan kita sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidik menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
- Untuk menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, maka salah satu peran dari guru penggerak yang diperlukan adalah sebagai pemimpin pembelajaran. Seiring dengan visi guru penggerak dalam mewujudkan murid yang memiliki profil Pancasila, maka perlu dibangun budaya positif baik di tingkat kelas maupun tingkat sekolah.
- Untuk dapat mencapai tujuan pendidikan tersebut maka salah satunya adalah dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi yang menjawab kebutuhan murid dengan mengembangkan kompetensi sosial dan emosionalnya.
- Dalam perjalanannya, pendidikan tidak terlepas dari berbagai permasalahan ataupun kasus yang muncul. Untuk itu dibutuhkan praktek coaching dalam mendorong murid maupun rekan sejawat dalam menemukan solusi atas permasalahannya. Di sini, pendidik memberikan tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada pada murid sehingga murid tidak salah arah. Sebagai pemimpin pembelajaran diperlukan keterampilan dalam pengambilan keputusan yang menghasilkan keputusan yang dat dipertanggungjawabkan dan selalu berpihak kepada murid.



Tidak ada komentar: